Maumere, NTT · 20 September 2026 1 online · 11 hari ini
Terbaru
Rohani

Renungan Harian Katolik, Rabu, 9 September 2026 : Bahagia yang Tidak Bisa Dibeli Dunia

Redaksi  ·   ·  132 dibaca
Renungan Harian Katolik, Rabu, 9 September 2026 : Bahagia yang Tidak Bisa Dibeli Dunia

HARIAN FLORES. COM -
Pax Vobiscum, para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan.
Setiap manusia tentu mendambakan kebahagiaan. Kita bekerja untuk hidup lebih baik, mencari kenyamanan, mengejar keberhasilan, mengumpulkan harta, dan berharap mendapat penghargaan dari orang lain.

Dunia modern bahkan terus menawarkan berbagai ukuran kebahagiaan: memiliki banyak uang, jabatan tinggi, rumah yang bagus, perjalanan yang menyenangkan, banyak pengikut di media sosial, serta mendapatkan pujian dan pengakuan.

Namun, dalam Injil hari ini yang diambil dari Injil: Lukas 6:20–26, Yesus menghadirkan sebuah cara pandang yang sungguh berbeda. Ia berkata:
“Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Kemudian Yesus menyebut mereka yang lapar, menangis, dan dibenci karena iman kepada-Nya sebagai orang-orang yang berbahagia. Sebaliknya, Yesus memberikan peringatan kepada mereka yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji semua orang.

Apakah Yesus melarang kita menjadi kaya, menikmati kebahagiaan, atau hidup dalam kelimpahan? Tentu bukan itu maksud-Nya. Yesus mengajak kita melihat di mana sumber kebahagiaan kita yang sebenarnya. Harta, jabatan, kenyamanan, popularitas, dan pujian manusia bukanlah dosa. Tetapi semuanya dapat menjadi bahaya ketika membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Allah.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi miskin secara rohani. Ia bisa kenyang secara jasmani tetapi hatinya lapar akan kasih dan kebenaran. Ia bisa tertawa di hadapan banyak orang tetapi menyimpan kesedihan dan kekosongan yang mendalam. Ia bisa memiliki ribuan pengikut tetapi kehilangan arah hidup karena tidak lagi mengikuti kehendak Tuhan.

Sebaliknya, orang yang sederhana dan bergantung kepada Allah dapat memiliki sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Inilah kebahagiaan yang ditawarkan Kristus: kebahagiaan yang berakar pada Allah, bukan pada keadaan.

Menjadi murid Kristus tidak berarti kita bebas dari penderitaan. Justru Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan kepada-Nya kadang membawa kita pada penolakan, kesulitan, air mata, bahkan pengorbanan.

Karena itu, penderitaan tidak selalu berarti Allah meninggalkan kita. Ada kalanya penderitaan menjadi jalan yang menuntun kita semakin dekat kepada-Nya. Di dalam air mata, kita belajar berdoa. Di dalam kesulitan, kita belajar berharap. Di dalam penolakan, kita belajar setia. Dan di dalam salib, kita belajar memahami kasih Kristus.

Dunia berkata: “Carilah kenyamanan.”
Kristus berkata: “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku.”
Dunia berkata: “Carilah pujian manusia.”
Kristus berkata: “Setialah kepada-Ku.”
Dunia berkata: “Kumpulkan sebanyak mungkin.”
Kristus berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah.”

Maka, pertanyaan penting bagi kita hari ini bukanlah: “Seberapa banyak yang saya miliki?”, tetapi “Seberapa dalam saya membutuhkan Allah?”

Sebab pada akhirnya, harta akan kita tinggalkan, jabatan akan berakhir, popularitas akan memudar, dan pujian manusia akan berlalu. Yang tetap tinggal adalah hubungan kita dengan Allah dan kesetiaan kita kepada Kristus.

Pesan untuk Kita
Saudaraku yang terkasih, jangan sampai kita mengejar kebahagiaan semu sampai kehilangan kebahagiaan sejati.
Marilah kita belajar menjadi “miskin di hadapan Allah”: rendah hati, terbuka terhadap rahmat-Nya, dan sadar bahwa tanpa Tuhan kita tidak memiliki apa-apa.
Marilah kita tetap haus akan firman-Nya ketika dunia menawarkan begitu banyak informasi. Tetaplah peka terhadap penderitaan sesama ketika dunia mengajarkan kita untuk hanya memikirkan diri sendiri. Tetaplah setia kepada Kristus meskipun kesetiaan itu terkadang tidak mendapat tepuk tangan dan penghargaan. Kebahagiaan sejati bukanlah ketika hidup kita bebas dari masalah, tetapi ketika dalam segala keadaan kita tetap memiliki Allah.

Pertanyaan Refleksi

Dalam hidup saya saat ini, apakah saya lebih mengejar berkat Allah atau pujian manusia?

Ketika menghadapi penderitaan, apakah saya menjauh dari Tuhan atau justru semakin mendekat kepada-Nya?

Apakah hati saya masih haus akan firman Tuhan, atau saya sudah terlalu nyaman dengan apa yang ditawarkan dunia?

Apakah harta, jabatan, kenyamanan, atau popularitas mulai menggantikan tempat Allah dalam hidup saya?

Doa
Tuhan Yesus yang penuh kasih,
ajarilah aku memahami arti kebahagiaan yang sejati. Jangan biarkan hatiku terikat pada harta, kenyamanan, jabatan, popularitas, dan pujian manusia.
Jadikanlah aku pribadi yang miskin di hadapan-Mu, rendah hati menerima kehendak-Mu, haus akan firman-Mu,
peka terhadap penderitaan sesama,
dan setia mengikuti-Mu dalam setiap keadaan. Ketika aku mengalami kesulitan, kuatkanlah aku. Ketika aku menangis, hiburlah aku. Ketika aku ditolak, teguhkanlah imanku.Dan ketika dunia menawarkan kebahagiaan semu,
ingatkanlah aku bahwa hanya Engkaulah sumber sukacita sejati. Bimbinglah aku untuk tetap setia memikul salib
dan berjalan bersama-Mu setiap hari,
hingga pada akhirnya aku layak mendengar suara-Mu:
“Berbahagialah kamu…”
Amin.

Selamat berefleksi dan menjalani hari dengan penuh iman, harapan, dan kasih.
Tuhan memberkati.

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

Bagikan: