Maumere, NTT · 20 September 2026 0 online · 11 hari ini
Terbaru
Olahraga

Taekwondoin Sikka Boyong 12 Medali, Derina ke Pemkab: Kalau Tidak Dukung Dana, Beri Reward atau Beasiswa

Redaksi  ·   ·  48 dibaca
Taekwondoin Sikka Boyong 12 Medali, Derina ke Pemkab: Kalau Tidak Dukung Dana, Beri Reward atau Beasiswa

HARIANFLORES.COM, MAUMERE — Prestasi gemilang ditorehkan tim Derina Winners Club Taekwondo Sikka dalam Kejuaraan Grade C Nasional Open Tournament Taekwondo Piala Danrem 052/WKR di Jakarta, 23 Agustus 2026.

Sebanyak 12 medali berhasil dibawa pulang para atlet muda asal Kabupaten Sikka dari ajang tersebut. Namun, di balik prestasi itu, terselip persoalan yang hingga kini masih menjadi keluhan minimnya perhatian dan apresiasi dari pemerintah maupun sekolah terhadap atlet yang telah membawa nama Kabupaten Sikka di tingkat nasional.

Para atlet bukan hanya bertanding untuk kepentingan pribadi. Mereka membawa nama klub, sekolah, dan Kabupaten Sikka. Bahkan, sebagian dari mereka harus berjuang menghadapi atlet-atlet dari daerah lain yang memiliki pengalaman dan pembinaan lebih baik.

Namun, setelah berhasil mengharumkan nama daerah, penghargaan yang diharapkan justru belum kunjung mereka rasakan.

Salah satu atlet yang tampil gemilang adalah Elizabet Zavera Lae Luter (13), atau yang akrab disapa Vera. Atlet muda ini sukses menyumbangkan dua medali emas setelah turun di kelas pemula under 44 kilogram dan kelas prestasi pra-kadet under 42 kilogram.

Vera berhasil menundukkan lawan-lawannya, termasuk ketika berhadapan dengan tim dari Cijantung.

Bagi Vera, kejuaraan di Jakarta bukanlah pengalaman pertamanya. Ajang tersebut merupakan kejuaraan keempat yang diikutinya, dan dalam setiap kejuaraan ia selalu mampu membawa pulang medali.
Namun, di balik konsistensi prestasinya, Vera mengaku belum pernah mendapatkan apresiasi dari pihak sekolah maupun pemerintah.

"Ini sudah kejuaraan keempat yang saya ikuti dan puji Tuhan selalu bisa membawa pulang medali. Tapi kalau soal apresiasi, baik dari sekolah maupun pemerintah, sampai sekarang memang belum ada. Harapannya ke depan pemerintah bisa lebih peka terhadap prestasi kami," ujar Vera.

Keluhan serupa datang dari Paskalia Mafrida Melani Putri (15), atlet yang turun di kelas kyorugi prestasi under 52 kilogram.

Paskalia harus menghadapi lawan-lawan tangguh yang merupakan atlet nasional dan atlet Pelatnas. Kendati demikian, ia mampu menunjukkan kemampuan terbaik dan berhasil mengamankan posisi juara III.


Prestasi tersebut menjadi pengalaman membanggakan bagi Paskalia. Namun, kebanggaan itu sekaligus dibarengi harapan agar pemerintah lebih memperhatikan keberadaan atlet-atlet muda berprestasi di Kabupaten Sikka.

"Perasaan saya sangat terharu dan bangga. Terima kasih untuk Sabeum pelatih dan orang tua yang selalu memberikan dukungan penuh. Soal apresiasi memang belum ada dari sekolah maupun pemerintah. Harapan saya, mungkin Pak Bupati bisa memberikan bantuan seperti beasiswa untuk atlet yang berprestasi," tutur Paskalia.

Menurut Paskalia, beasiswa bukan semata-mata soal penghargaan berupa materi. Dukungan tersebut juga dapat menjadi bentuk pengakuan pemerintah terhadap perjuangan atlet sekaligus motivasi agar mereka terus berprestasi.

Sementara itu, medali emas lainnya disumbangkan Vincensia Yulif Aslinda (15), siswi kelas X SMK Negeri 3 Maumere yang tampil di kategori Poomsae Junior.

Kejuaraan di Jakarta tersebut merupakan kejuaraan keempat yang diikuti Vincensia. Ia pun kembali konsisten membawa pulang medali untuk Kabupaten Sikka.

Vincensia menegaskan bahwa setiap kali bertanding, dirinya tidak hanya membawa nama pribadi.

"Kami membawa nama sekolah, nama tim, dan nama kabupaten. Untuk apresiasi sejauh ini belum ada, baik dari pihak sekolah maupun Pemkab. Kami berharap perjuangan ini bisa mendapat perhatian yang layak," pungkas Vincensia.

Kondisi tersebut menjadi sorotan pelatih Derina Winners Club Taekwondo Sikka, Derina da Cunha.

Menurut Derina, prestasi yang diraih para atlet tidak datang secara instan. Ada proses latihan, pengorbanan, biaya, tenaga, serta keberanian para atlet untuk tampil dan bersaing dengan peserta dari berbagai daerah.

Ironisnya, ketika prestasi berhasil diraih dan nama Kabupaten Sikka ikut terangkat, perhatian dari pemerintah justru dinilai belum sebanding dengan perjuangan para atlet.

Derina menyebut para atletnya telah menyumbangkan banyak medali untuk Kabupaten Sikka. Namun, hingga kini belum ada bentuk penghargaan yang dirasakan para atlet dari pemerintah.

"Kalau pemerintah tidak bisa dukung dalam bentuk dana untuk akomodasi, setidaknya menghargai perjuangan para atlet dengan memberikan reward atau beasiswa. Hal itu yang membuat para atlet tambah semangat. Tapi sampai sekarang pemerintah tidak peka," tutur Derina da Cunha.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya persoalan yang lebih besar dalam pembinaan olahraga di daerah. Prestasi atlet tidak seharusnya hanya menjadi kebanggaan ketika mereka berhasil membawa pulang medali, tetapi juga harus diikuti dengan perhatian terhadap keberlanjutan pembinaan dan masa depan para atlet.

Bagi atlet usia pelajar seperti Vera, Paskalia, dan Vincensia, penghargaan berupa beasiswa misalnya, dapat menjadi bentuk dukungan konkret untuk membantu pendidikan sekaligus mempertahankan semangat mereka dalam berlatih.

Begitu pula dukungan terhadap kebutuhan akomodasi dan keberangkatan ke kejuaraan. Tanpa dukungan yang memadai, beban pembinaan berpotensi lebih banyak ditanggung atlet, orang tua, dan klub.

Meski kecewa karena belum mendapatkan apresiasi yang diharapkan, Derina tidak ingin kondisi tersebut mematahkan semangat para atletnya.

Ia justru meminta anak-anak asuhnya untuk tetap berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan berikutnya.

"Saya pesan kepada anak-anak, meski pemerintah tidak kasih kamu hadiah atau beasiswa, setidaknya kamu sudah membanggakan orang tua dan bawa nama daerah kita. Tetap semangat dan tetap berlatih," pungkasnya.

Raihan 12 medali di Jakarta akhirnya menjadi bukti bahwa Kabupaten Sikka memiliki potensi atlet muda yang mampu bersaing di level nasional.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah atlet Sikka mampu berprestasi, tetapi sejauh mana pemerintah daerah hadir setelah prestasi itu diraih.

Sebab, jika atlet diminta terus membawa nama daerah, sudah semestinya perjuangan mereka juga mendapat tempat dalam perhatian dan kebijakan pemerintah. Prestasi tidak cukup hanya dirayakan melalui medali dan kebanggaan sesaat; atlet juga membutuhkan dukungan nyata agar prestasi tersebut dapat terus tumbuh dan berkelanjutan. (*)

Bagikan: