5 Hektar Tanaman Jambu Mete di Ende Rusak Diguncang Gempa Flores
HARIANFLORES.COM, ENDE – Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter (SR) yang mengguncang Pulau Flores pada pertengahan Agustus 2026 tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan menimbulkan korban jiwa. Guncangan dahsyat tersebut juga membawa dampak serius terhadap sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Salah satu dampak yang kini menjadi perhatian serius Dinas Pertanian Kabupaten Ende adalah kerusakan pada tanaman perkebunan, terutama jambu mete yang menjadi salah satu komoditas pertanian masyarakat. Guncangan gempa membuat bunga-bunga jambu mete berguguran. Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap produktivitas tanaman dan hasil panen petani pada musim mendatang. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Gadir Haji Ibrahim Dean, mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu dampak bencana yang mendesak untuk segera mendapatkan penanganan. “Yang urgen sekarang itu adalah kerusakan pada tanaman jambu mete. Ketika gempa itu semua bunga-bunganya gugur. Ini sedang kita lakukan pelaporannya ke Kementan untuk solusinya bagaimana,” ujar Gadir Dean, Rabu (2/9/2026) siang sebelum mengikuti rapat pembahasan perubahan APBD Kabupaten Ende tahun 2026. Menurut Gadir, dampak gempa terhadap sektor pertanian cukup terasa, terutama pada tanaman perkebunan. Namun, persoalan tersebut menghadapi kendala dalam sistem pelaporan bencana karena kerusakan atau dampak terhadap tanaman perkebunan belum secara spesifik terakomodasi. “Di nomenklatur bencana alam itu belum nampak dalam kolom-kolom pelaporannya, jadi dampaknya itu sangat terasa di pertanian, khususnya tanaman perkebunan,” jelasnya. Dinas Pertanian Kabupaten Ende mencatat sedikitnya lima hektare lahan tanaman jambu mete terdampak gempa bumi. Lahan yang terdampak tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Ende, terutama kawasan utara dan daerah pegunungan. Salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Nangapanda. Kerusakan tersebut tidak hanya dilihat dari kondisi fisik tanaman, tetapi juga dari dampak biologis yang ditimbulkan akibat guncangan gempa. Gugurnya bunga jambu mete berpotensi menyebabkan tanaman kehilangan kesempatan untuk menghasilkan buah pada musim panen berikutnya. Gadir mengatakan kondisi itu dapat memberikan dampak panjang terhadap pendapatan petani, terlebih apabila tanaman benar-benar tidak mampu menghasilkan buah secara optimal. Situasi tersebut juga diperparah oleh panas ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Ende. Perpaduan antara guncangan gempa dan kondisi cuaca yang sangat panas membuat tanaman jambu mete menghadapi tekanan lebih berat. Dinas Pertanian bahkan memastikan kondisi tersebut berpotensi menyebabkan tanaman jambu mete mengalami gagal panen. “Dampak jangka panjangnya terhadap tanaman jambu mete, kita pastikan akan terjadi gagal panen karena bunga-bunga jambu mete gugur akibat diguncang gempa ditambah panas ekstrem,” katanya. Selain perkebunan, gempa juga memberikan dampak terhadap infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi di Kabupaten Ende. Menurut Gadir, kerusakan terutama ditemukan pada sejumlah jaringan irigasi di wilayah utara Kabupaten Ende. Sebagian jaringan tersebut sebenarnya telah mengalami kerusakan akibat bencana Seroja beberapa tahun sebelumnya serta banjir. Guncangan gempa yang terjadi pada pertengahan Agustus 2026 kemudian memperparah kondisi yang sudah ada. Gempa menyebabkan sejumlah retakan pada tanah dan jaringan irigasi menjadi semakin lebar. Kerusakan tersebut terjadi pada berbagai tingkatan jaringan, mulai dari saluran irigasi primer, sekunder hingga tersier. Meski demikian, kondisi lahan persawahan yang mendapatkan pasokan air dari jaringan irigasi tersebut secara umum belum menunjukkan dampak yang terlalu besar. Bahkan, di sejumlah titik justru terjadi peningkatan debit air. “Untuk sawah irigasi itu tidak terlalu nampak, malah di beberapa titik debit air malah naik,” ungkap Gadir. Ternak Stres, Sapi Bunting Keguguran Dampak gempa di Kabupaten Ende juga dirasakan oleh sektor peternakan. Guncangan gempa membuat banyak hewan ternak milik warga mengalami stres. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Pertanian karena tekanan akibat bencana dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan ternak. Salah satu kasus serius terjadi di wilayah Nangapanda. Seekor sapi bunting mengalami keguguran setelah diduga mengalami stres dan kaget akibat guncangan gempa. Anak sapi tersebut mati di dalam kandungan. Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Ende kemudian bergerak cepat melakukan evakuasi untuk mengeluarkan anak sapi yang telah mati dari dalam perut induknya. Tindakan tersebut dilakukan untuk menyelamatkan induk sapi agar tidak mengalami kondisi yang lebih parah. “Banyak ternak stres. Kita sudah lakukan evakuasi terhadap satu ekor sapi yang bunting dan anak sapi mati dalam perut akibat kaget. Itu terjadi di daerah Nangapanda sehingga kita melakukan langkah cepat mengeluarkan anak sapi yang mati dari dalam perut induknya sehingga bisa selamat,” pungkas Gadir. Dinas Pertanian Kabupaten Ende kini masih melakukan pendataan terhadap berbagai dampak gempa bumi pada sektor pertanian dan peternakan. Pendataan tersebut mencakup kondisi tanaman perkebunan, jaringan irigasi maupun ternak milik masyarakat yang terdampak bencana. Data yang berhasil dihimpun nantinya akan dilaporkan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendapatkan penanganan dan solusi atas kerugian yang dialami masyarakat. Bagi petani jambu mete, persoalan ini menjadi perhatian serius karena gugurnya bunga akibat gempa berpotensi tidak hanya menimbulkan kerugian sesaat, tetapi juga mengurangi hasil produksi pada musim panen mendatang. Dengan sedikitnya lima hektare tanaman jambu mete yang telah terdata terdampak, pemerintah daerah kini berupaya memastikan dampak bencana terhadap sektor pertanian tidak terlewatkan dalam proses penanganan pascagempa. (*)