Gunung Ili Lewotolok 442 Kali Meletus, Lava Baru Mengalir 500 Meter dari Kawah
HARIANFLORES.COM, LEWOLEBA - Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih menunjukkan intensitas tinggi.
Dalam periode pengamatan Selasa (8/9/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WITA, gunung api setinggi 1.423 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tercatat mengalami 442 kali letusan.
Aktivitas tersebut disertai kemunculan aliran lava baru di sektor timur laut serta lontaran material pijar ke arah tenggara. Kondisi ini membuat masyarakat dan wisatawan diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Api Ili Lewotolok, kondisi cuaca di sekitar gunung selama periode pengamatan cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah timur, tenggara, dan barat laut.
Suhu udara tercatat berkisar antara 23 hingga 31 derajat Celsius.
Secara visual, Gunung Ili Lewotolok teramati jelas dengan kondisi kabut 0-I hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal terlihat membumbung setinggi 50 hingga 200 meter di atas puncak kawah.
Yang paling menonjol adalah aktivitas letusan yang terjadi berulang kali.
PVMBG mencatat sebanyak 442 kali gempa letusan, dengan amplitudo 33,2–40 milimeter dan durasi masing-masing letusan berkisar 22 hingga 150 detik.
Secara visual, letusan menghasilkan kolom asap berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian mencapai 200 hingga 800 meter.
Selain letusan, petugas juga mencatat 60 kali gempa hembusan, dengan amplitudo 5,5–22,1 milimeter dan durasi 25–56 detik.
Kemudian tercatat lima kali tremor non-harmonik dengan amplitudo 2,2–40 milimeter dan durasi 96–286 detik serta satu kali tremor harmonik dengan amplitudo 11,1 milimeter dan durasi 102 detik.
Sementara itu, gempa tektonik jauh tercatat sebanyak dua kali, dengan amplitudo 22,1–40 milimeter, selisih waktu tiba gelombang P dan S (S-P) 17–33 detik, serta durasi 62–146 detik.
Aktivitas erupsi Gunung Ili Lewotolok juga disertai suara gemuruh dan dentuman.
Dalam periode pengamatan, petugas melaporkan adanya gemuruh atau dentuman lemah, serta lontaran material pijar ke sektor tenggara hingga sekitar 200 meter dari bibir kawah.
Tidak hanya itu, perkembangan aktivitas gunung api juga ditandai dengan munculnya aliran lava baru.
Aliran lava baru teramati di sektor timur laut, sekitar 500 meter dari bibir kawah.
Sementara itu, endapan lava yang berada di sektor timur laut telah mencapai sekitar 1.100 meter dari bibir kawah.
Endapan lava juga terpantau di sektor selatan-tenggara dengan jarak mencapai sekitar 1.800 meter dari bibir kawah.
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok kemudian kembali ditandai erupsi pada 9 September 2026 pukul 05.56 WITA.
Dalam informasi erupsi PVMBG, kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 600 meter di atas puncak, atau sekitar 2.023 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan terlihat condong ke arah barat laut.
Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar 44 detik.
Letusan kali ini juga disertai dentuman sedang.
Meskipun aktivitas erupsi terus berlangsung, Gunung Ili Lewotolok saat ini masih berada pada Status Level II (Waspada).
PVMBG mengingatkan masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Khusus pada sektor selatan dan tenggara, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
PVMBG juga meminta masyarakat mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas yang dapat terjadi pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ili Lewotolok.
Ancaman tersebut perlu menjadi perhatian karena aktivitas lava dan letusan masih berlangsung.
Masyarakat yang berada di sekitar Gunung Ili Lewotolok juga diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung.
Selain masker, masyarakat dianjurkan menggunakan perlengkapan lain yang dapat melindungi mata dan kulit dari paparan material vulkanik.
Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta gangguan kesehatan lainnya akibat paparan abu vulkanik.
PVMBG juga mengingatkan warga untuk menutup tempat penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
Pemerintah daerah dan masyarakat diminta senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Badan Geologi di Bandung untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Perkembangan aktivitas dan rekomendasi teknis Gunung Ili Lewotolok dapat dipantau melalui aplikasi dan situs Magma Indonesia, serta media sosial PVMBG dan situs resmi Badan Geologi.