Maumere, NTT · 4 November 2026 9 online · 96 hari ini
Terbaru
Proyek Watergen di Semparong, Sikka Bersumber dari Dana PEN, Berpotensi Rugikan Negara Rp1,5 Miliar • Kejari Sikka Geledah Kantor Dinas PUPR dan Setda, Dua Boks Dokumen Pengadaan Watergen Samparong Disita • Juara dan Runner-up ETMC 2025 Kompak Absen di ETMC XXXV Flores Timur 2026 • Kapolres Ende Ajak Pelajar SMPN 1 Jadi Generasi Berkarakter, Disiplin, dan Anti-Bullying • 19 Tim Siap Bertarung di ETMC Flores Timur, 100 UMKM Gratis Berjualan, Trofi Bersejarah Perseftim Bakal Diarak Keliling Larantuka • Renungan Katolik Minggu, 1 November 2026 : Kekayaan Sejati Tidak Diukur dari Harta, tetapi dari Kedekatan dengan Allah • Sawah Terendam Banjir, Petani Tou Timur di Ende Berharap Penanganan Permanen dari Pemerintah • Askab PSSI Ende Tunjuk Cicih M. Badeoda Jadi Manajer Perse di ETMC Flotim • Proyek Watergen di Semparong, Sikka Bersumber dari Dana PEN, Berpotensi Rugikan Negara Rp1,5 Miliar • Kejari Sikka Geledah Kantor Dinas PUPR dan Setda, Dua Boks Dokumen Pengadaan Watergen Samparong Disita • Juara dan Runner-up ETMC 2025 Kompak Absen di ETMC XXXV Flores Timur 2026 • Kapolres Ende Ajak Pelajar SMPN 1 Jadi Generasi Berkarakter, Disiplin, dan Anti-Bullying • 19 Tim Siap Bertarung di ETMC Flores Timur, 100 UMKM Gratis Berjualan, Trofi Bersejarah Perseftim Bakal Diarak Keliling Larantuka • Renungan Katolik Minggu, 1 November 2026 : Kekayaan Sejati Tidak Diukur dari Harta, tetapi dari Kedekatan dengan Allah • Sawah Terendam Banjir, Petani Tou Timur di Ende Berharap Penanganan Permanen dari Pemerintah • Askab PSSI Ende Tunjuk Cicih M. Badeoda Jadi Manajer Perse di ETMC Flotim •
Daerah

Sawah Terendam Banjir, Petani Tou Timur di Ende Berharap Penanganan Permanen dari Pemerintah

Redaksi  ·   ·  262 dibaca
Sawah Terendam Banjir, Petani Tou Timur di Ende Berharap Penanganan Permanen dari Pemerintah

HARIAN FLORES.COM, ENDE –
Banjir yang berulang kali merendam areal persawahan di Desa Tou Timur, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, menjadi persoalan serius bagi para petani. Setiap musim hujan, luapan air Kali Lowo Nggonda kerap menggenangi lahan pertanian warga dan mengancam produktivitas tanaman padi.

Kondisi tersebut membuat petani berharap pemerintah segera menghadirkan penanganan permanen agar lahan persawahan mereka tidak terus menjadi langganan banjir.

Pemerintah Kabupaten Ende melalui Dinas Pertanian telah mengupayakan penanganan persoalan tersebut dengan menyiapkan pembangunan bronjong di sepanjang Kali Lowo Nggonda. Pembangunan ini diharapkan dapat menahan luapan air sungai sehingga tidak kembali menggenangi areal persawahan masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Gadir Dean, mengatakan persoalan banjir di kawasan persawahan Desa Tou Timur sudah berlangsung setiap tahun dan membutuhkan penanganan serius.

Hal tersebut disampaikan Gadir Dean saat diwawancarai media ini, Sabtu (31/10/2026) siang.

Menurutnya, pemerintah telah mengupayakan penanganan melalui dukungan anggaran APBN pada tahun ini. Langkah tersebut dilakukan karena kawasan persawahan di Desa Tou Timur memiliki tingkat kerawanan banjir yang cukup tinggi.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama banjir adalah kondisi geografis lahan persawahan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air sungai. Akibatnya, ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut dan debit air meningkat, Kali Lowo Nggonda mudah meluap hingga memasuki lahan pertanian warga.

Gadir Dean mengakui, pembangunan bronjong pada dasarnya merupakan kewenangan balai sungai. Namun, Dinas Pertanian Kabupaten Ende berupaya mendorong penanganan persoalan tersebut karena dampaknya langsung dirasakan para petani.

Sementara itu, terkait banjir yang terjadi setelah hujan deras pada Jumat malam, pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai total luas lahan persawahan yang terdampak.

Untuk mengetahui kondisi sebenarnya, Dinas Pertanian akan berkoordinasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah setempat.

"Kami segera berkomunikasi dengan BPP dan PPL untuk mengetahui kira-kira berapa hektare lahan yang terdampak hujan semalam yang sangat deras," jelasnya.

Meski demikian, Gadir Dean menyebutkan bahwa sebagian besar tanaman padi yang terendam banjir kali ini sudah mendekati masa panen. Dengan kondisi tersebut, potensi kerugian akibat gagal panen diperkirakan relatif kecil.

Kendati demikian, persoalan banjir di Desa Tou Timur tetap membutuhkan solusi jangka panjang. Sebab, jika tidak segera ditangani, luapan air sungai berpotensi terus mengganggu aktivitas pertanian masyarakat setiap musim hujan.

Pembangunan bronjong di Kali Lowo Nggonda diharapkan menjadi langkah konkret pemerintah dalam melindungi kawasan persawahan sekaligus memberikan kepastian bagi petani dalam menjalankan usaha pertanian mereka.

Bagi masyarakat Desa Tou Timur, penanganan banjir bukan sekadar persoalan infrastruktur sungai, melainkan juga menyangkut perlindungan sumber penghidupan dan keberlanjutan produksi pangan di wilayah tersebut. (*)

Bagikan: